Michel Fabrizio: Tragedi Dean Vinales Imbas dari Contoh Buruk Gaya Bar-bar Marquez

Michel Fabrizio: Tragedi Dean Vinales Imbas dari Contoh Buruk Gaya Bar-bar Marquez

Michel Fabrizio: Tragedi Dean Vinales Imbas dari Contoh Buruk Gaya Bar-bar Marquez

Valentino Rossi (Movistar Yamaha) vs Marc Marquez (Repsol Honda) Race MotoGP Termas de Rio Hondo, Argentina 2018. (Istimewa)

Asport.Akurasi.id, Jerez — Usai kecelakaan yang merenggut nyawa pembalap muda Spanyol, Dean Berta Vinales, yang merupakan sepupu dari pembalap MotoGP, Maverick Vinales, di kelas WorldSSP 300 di Jerez, Sabtu (25/9/2021) kemarin, diputuskan untuk tidak melanjutkan semua sisa di hari itu. Kemudian mengadakan pertemuan di sore hari untuk melihat apa yang harus dilakukan untuk hari Minggu setelah tragedi Dean Vinales.

Dalam kesepakatan dengan keluarga pembalap, diputuskan untuk melanjutkan balapan dengan tujuan mengenang anak berusia 15 tahun itu. Dalam satu akhir pekan balap WSBK (Superbike, Supersport 600 dan Supersport 300) ada dua hari balapan, yakni Sabtu dan Minggu.

Keputusan ini – seperti yang terjadi dalam kasus Jason Dupasquier – tidak berjalan baik dengan semua pembalap. Orang yang paling memposisikan dirinya menentangnya adalah mantan pebalap MotoGP, Michel Fabrizio, yang dengan tegas menolak untuk ambil bagian dalam balapan Supersport dengan tim Puccetti hari Minggu ini.

“Besok (Minggu, 26 September) saya akan menolak untuk menghormati kehidupan manusia (dengan cara tetap balapan, yang dianggapnya tidak benar),” kata pembalap Italia itu dalam sebuah posting di media sosial.

“Hari ini saya menyaksikan hari yang buruk, kehilangan seorang pembalap berusia 15 tahun,” sambungnya, sebagaimana dimuat Motorsport.

Fabrizio juga memprotes Federasi Sepeda Motor Internasional (FIM), karena dalam kelas ini ada terlalu banyak peserta, masih muda dan belum punya banyak pengalaman. “Saya telah melihat banyak balapan seperti ini dalam kelas ini, dan setiap kali satu selesai, ada napas lega karena hasilnya bagus,” katanya.

“Tapi sayangnya itu tidak selalu berjalan dengan baik dan hari ini (Sabtu) tidak dapat diprediksi atau mungkin apa yang kita tahu akan terjadi telah terjadi,” sambungnya.

Dari Tragedi Dean Vinales, FIM Lebih Mementingkan Sisi Bisnis Dunia Balap

“Saya melihat ketidakpedulian dari pihak Federasi Internasional; menyejajarkan 42 anak di Yamaha Cup (untungnya semuanya berjalan lancar, pada 2021) dan 42 lainnya di WorldSSP 300.

Terlalu banyak, terlalu banyak pembalap dengan sedikit atau tanpa pengalaman, dan ini tidak hanya terjadi di kejuaraan dunia, tapi juga di nasional, di mana semuanya diisi, sampai ke grid terakhir yang tersedia, untuk menghasilkan uang,” sambung Fabrizio.

“Masalahnya ada di Moto3, Talent Cup dan kejuaraan nasional. Selain itu, trek juga harus direvisi dan memberikan ruang (run-off) yang lebih baik!

Ini semua karena FIM yang tidak memainkan perannya sebagai penjaga (pengamanan), tetapi hanya lebih suka bisnis. Sudah waktunya bagi politisi di setiap negara untuk turun tangan,” harapnya.

“Yang pertama mengirim pesan kuat adalah Ayrton Senna, yang mengatakan bahwa beberapa sirkuit berbahaya, dan hanya setelah kematiannya mereka baru turun tangan.

Hari ini, ada lebih sedikit kematian di Formula 1, tapi di balap motor telah terjadi pembantaian,” keluhnya.

Gaya dan Cara Pembalap MotoGP Menjadi Contoh dan Patokan/Rujukan Bagi Pembalap Muda

Fabrizio juga mengkritisi sikap Pengawas Balap yang kurang tegas dengan tindakan-tindakan melebihi batas pembalap senior, yang menjadi contoh buruk bagi pembalap muda.

“Valentino Rossi bertahun-tahun lalu, ketika Marc Marquez memasuki MotoGP, mengkritik, mengatakan bahwa dia mengeluh tentang manuver Marquez yang “salah”.

Anda harus setuju dengannya (Rossi). Marquez telah menjadi tolok ukur; anak-anak muda ini meniru perbuatannya, menyalip melebihi batas, bersandar pada lawan mereka mempertaruhkan setiap inci,” serunya.

Fabrizio, yang kini sudah berusia 37 tahun, ingin keluar dan pensiun dari dunia balap setelah apa yang terjadi baru-baru ini. “Dan saya akan pensiun. Sudah waktunya untuk mengatakan cukup. Saya menarik diri dari balapan untuk mengirim pesan protes yang kuat!

Semoga aturan berubah untuk melindungi kehidupan manusia. Saya telah berbaring di ranjang hotel saya selama lebih dari 5 jam menatap di langit-langit, memikirkan momen-momen indah yang diberikan olahraga ini kepada saya. Tapi ketika saya kembali setelah enam tahun saya melihat bahwa dunia ini telah berubah,” demikian Fabrizio.

Kecelakaan yang berujung kematian Dean Vinales menjadi yang ketiga kalinya sejak insiden yang dialami Jason Dupasquier (Moto3) di Mugello, serta Hugo Millan (European Talent Cup) di Aragon tahun ini. (*)

Sumber: Ruangsport.com
Editor: Redaksi Akurasi.id

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *